Cita Citaku Menjadi Presiden
Ridwan
Malik, demikian nama lengkap anak lelaki yang lahir
pada 25 April, dua belas tahun yang lalu ini. Sekilas nampak tidak ada yang
berbeda dari Ridwan, bila dibanding dengan anak-anak lain yang sebaya
dengannya. Namun siapa sangka, di
usianya yang baru dua belas tahun tersebut Ridwan telah banyak melalui jalan
hidup yang penuh liku.
Sekitar dua tahun yang lalu, Tim Rumah Cerdas Indonesia (RCI) mendapati Ridwan tengah berada di
sebuah Pasar di daerah Bogor. Sosok Ridwan
ketika itu tampak begitu memprihatinkan. Tubuh hitam kurus berhias koreng di
sekujur badan, pakaian lusuh dan kusam serta raut muka yang pucat, lebih dari
cukup untuk menggambarkan “derita” yang dialami bocah ini. Sehari-hari Ridwan tinggal di Pasar dan
berjuang untuk bertahan hidup dengan menjadi penjual tas plastik (kresek).
Orang-orang di sekitar Pasar mengatakan kalau Ridwan hidup terlunta-lunta seorang
diri, tanpa tahu dimana sanak keluarganya.
Tim RCI tergugah untuk
mengangkat Ridwan menjadi anak asuh RCI.
Awalnya tentu bukan hal yang mudah
untuk dapat langsung menjadikan Ridwan sebagai anak asuh RCI. Tim RCI mesti mengetahui informasi tentang
latar belakang keluarga Ridwan terlebih dahulu.
Namun tidak banyak informasi yang dapat diperoleh, baik dari orang-orang
di Pasar maupun dari Ridwan sendiri.
Ridwan hanya mengatakan kalau dia berasal dari Semarang, mempunyai Ayah
yang bernama Adit dan Ibunya bernama
Ade Sri Miyati. Kedua orang tuanya tersebut telah meninggal
dunia. Ridwan juga mengatakan kalau dia
memiliki seorang adik perempuan, namun saat ini tak diketahui
keberadaannya.
Setelah
menanyakan kesediaan Ridwan dan atas sepengetahuan orang-orang di Pasar, Ridwan
dibawa oleh Tim RCI untuk tinggal di Asrama
Yatim Dhuafa RCI yang ada di Depok. Kini sudah hampir dua tahun Ridwan tinggal di
Asrama RCI Depok. Sekarang dia duduk di
kelas IIIC, SDN Bencongan – Depok.
Menurut pembina asramanya, Ridwan termasuk anak yang pintar baik dari
segi pelajaran di sekolah (ranking II) maupun pelajaran agama (mengaji). Akhlaknya juga semakin baik bila dibanding
saat baru pertama kali masuk asrama.
Dahulu dia sempat suka pergi tanpa pamit. Tapi sekarang tidak lagi, karena menurutnya
kini dia merasa lebih betah dan nyaman tinggal di asrama bersama pembina dan
teman-teman anak asuh lainnya.
Saat
ditanya apa cita-citanya, Ridwan yang mempunyai hobi bermain marawis dan
membaca komik ini mengatakan ingin jadi Presiden. Cita-cita tinggi yang membuat Ridwan terus
belajar lebih giat untuk menggapainya.
***