Selasa, 21 Februari 2017

Cita Citaku Menjadi Presiden


Ridwan Malik, demikian nama lengkap anak lelaki yang lahir pada 25 April, dua belas tahun yang lalu ini. Sekilas nampak tidak ada yang berbeda dari Ridwan, bila dibanding dengan anak-anak lain yang sebaya dengannya.  Namun siapa sangka, di usianya yang baru dua belas tahun tersebut Ridwan telah banyak melalui jalan hidup yang penuh liku.
          Sekitar dua tahun yang lalu, Tim Rumah Cerdas Indonesia (RCI) mendapati Ridwan tengah berada di sebuah Pasar di daerah Bogor.  Sosok Ridwan ketika itu tampak begitu memprihatinkan. Tubuh hitam kurus berhias koreng di sekujur badan, pakaian lusuh dan kusam serta raut muka yang pucat, lebih dari cukup untuk menggambarkan “derita” yang dialami bocah ini.  Sehari-hari Ridwan tinggal di Pasar dan berjuang untuk bertahan hidup dengan menjadi penjual tas plastik (kresek). Orang-orang di sekitar Pasar mengatakan kalau Ridwan hidup terlunta-lunta seorang diri, tanpa tahu dimana sanak keluarganya.  Tim RCI tergugah untuk mengangkat Ridwan menjadi anak asuh RCI.
          Awalnya tentu bukan hal yang mudah untuk dapat langsung menjadikan Ridwan sebagai anak asuh RCI.  Tim RCI mesti mengetahui informasi tentang latar belakang keluarga Ridwan terlebih dahulu.  Namun tidak banyak informasi yang dapat diperoleh, baik dari orang-orang di Pasar maupun dari Ridwan sendiri.  Ridwan hanya mengatakan kalau dia berasal dari Semarang, mempunyai Ayah yang bernama Adit dan Ibunya bernama Ade Sri Miyati.  Kedua orang tuanya tersebut telah meninggal dunia.  Ridwan juga mengatakan kalau dia memiliki seorang adik perempuan, namun saat ini tak diketahui keberadaannya. 
Setelah menanyakan kesediaan Ridwan dan atas sepengetahuan orang-orang di Pasar, Ridwan dibawa oleh Tim RCI untuk tinggal di Asrama Yatim Dhuafa RCI yang ada di Depok.  Kini sudah hampir dua tahun Ridwan tinggal di Asrama RCI Depok.  Sekarang dia duduk di kelas IIIC, SDN Bencongan – Depok.  Menurut pembina asramanya, Ridwan termasuk anak yang pintar baik dari segi pelajaran di sekolah (ranking II) maupun pelajaran agama (mengaji).  Akhlaknya juga semakin baik bila dibanding saat baru pertama kali masuk asrama.  Dahulu dia sempat suka pergi tanpa pamit.  Tapi sekarang tidak lagi, karena menurutnya kini dia merasa lebih betah dan nyaman tinggal di asrama bersama pembina dan teman-teman anak asuh lainnya.
Saat ditanya apa cita-citanya, Ridwan yang mempunyai hobi bermain marawis dan membaca komik ini mengatakan ingin jadi Presiden.  Cita-cita tinggi yang membuat Ridwan terus belajar lebih giat untuk menggapainya.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar